Responsive Banner design
Home » , , » SUMBER AWAL PERTENGKARAN DALAM KELUARGA ?

SUMBER AWAL PERTENGKARAN DALAM KELUARGA ?



SUMBER AWAL PERTENGKARAN DALAM KELUARGA ?

Penting sekali dibaca oleh setiap orang tua, ayah bunda atau para pasangan yang sedang berniat membangun rumah tangga bahagia.

Selama lebih dari 7 tahun menjadi konselor anak dan keluarga, sy menemukan salah satu penyakit terbesar penyebab ketidakharmonisan hubungan antar pasangan juga hubungan orang tua dan anak adalah karena "Ego yang terlalu besar pada masing-masing pihak"

Ego bahwa kita merasa yang paling benar, paling tahu, paling bisa dan paling berkuasa dan orang lainlah yang paling salah, paling tidak mengerti dsb.

Hingga pada akhirnya ego kita itu telah melukai hati kita sendiri juga hati pasangan dan anak-anak kita juga banyak orang lainnya yg berinteraksi dengan kita.

Alih-alih kita belajar mengasah dan mengikis ego kita, kebanyakan pasangan lebih memilih jalan pintas....., dan kembali lagi keluarga dan anak-anaklah yang kembali menjadi korbannya.

Saya dulu juga pernah mengalaminya, namun atas berkat pertolongan Tuhan melalui bimbingan seorang guru bijak, akhirnya kami menyadari sumber masalahnya dan terus belajar untuk mengikis ego kami baik sebagai pasangan, suami, atau ayah bagi anak-anak kami.

Berikut adalah sebuah kisah yang telah membuat saya, pasangan dan hidup keluarga kami berubah drastis.

Suatu ketika pasangan yang baru saja bertengkar hebat akhirnya kelelahan, dan dalam kelelahan tanpa sengaja mereka melihat seekor tikus yang sedang asyik menggerogoti kabel di sudut ruangan rumah mereka.

Asyik ia menggerogoti kabel atau semacam benda-benda keras yang semestinya bukan makanan bagi perutnya. Ia mengerat benda-benda yang tidak kita harapkan dihancurkan oleh kebiasaan "buruk"nya itu.

Lalu tiba-tiba kedua pasangan ini bertanya dalam batin mereka masing-masing.

"Kenapa Tuhan mesti menciptakan tikus dengan kebiasaan merusak seperti itu ya?"

Seperti mendengar keluh kesah Manusia, tikus tersebut berhenti mengerat dan melirik ke arah dua orang manusia yang baru saja kelelahan karena baru saja bertengkar, moncongnya kini bergerak-gerak seakan membela diri.

"Hai manusia, aku mengerat kabel dan benda-benda keras ini bukan bermaksud merusak atau menunjukkan kebiasaan yang buruk di matamu. Jika aku tidak mengerat, maka gigi geligiku akan terus bertumbuh besar dan menyulitkan aku mengunyah makanan. Matilah aku karena gigiku sendiri. Aku mesti mengurangi ketajamannya agar tidak melukai mulutku sendiri."

"Hai manusia bukankah kau pun mesti mengerat ego dalam pikiranmu sendiri agar tidak tumbuh terlalu besar dan akhirnya melukai dirimu juga pasanganmu?

"Sebab dengan ketajaman pikiranmu, kau bisa melukai dirimu sendiri atau orang lain bila ia kelebihan muatan ego, entah ego negatif atau pun positif. Karena kau sering merasa paling benar dengan apa yang kau ucapkan dan kau lakukan."

"Ayo seperti aku, belajarlah mengikis besarnya Ego yang kau miliki sebelum ego itu melukai dirimu, istrimu, anak-anakmu dan lebih banyak lagi orang."

Mulailah dengan cara berhentil merasa diri paling benar, dan belajarlah melihat kebenaran dari sudut pandang orang lain terutama pasanganmu juga anak-anakmu.

Sumber dari tulisan Dr Mustika Wayan
disunting oleh Ayah Edy untuk sahabat komunitas.

0 komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog